Win-win Solution Dengan Flipped Classroom
Flipped Classroom adalah metode pembelajaran yang membawa paradigma baru dalam praktik pembelajaran. Model pembelajaran ini mungkin belum banyak diterapkan oleh guru-guru di Indonesia, setidaknya itu saya temukan di sekolah tempat saya mengajar. Model pembelajaran ini terkesan masih asing dan belum banyak diketahui oleh rekan-rekan sejawat saya.
Sekedar refleksi, suatu ketika kami mengadakan sosialisasi terkait pendekatan pembelajaran yang sedang digalakkan oleh pemerintah, yaitu pembelajaran mendalam. Narasumber kami menyampaikan bahwa salah kerangka dalam pendekatan pembelajaran ini adalah pemanfaatan digital. Nah pada bagian ini rekan-rekan guru banyak yang merasa gamang dan mengajukan satu pertanyaan besar: bagaimana guru bisa memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran sementara sekolah memberlakukan kebijakan siswa dilarang membawa ponsel ke sekolah?
Untuk menjawab pertanyaan ini saya mengajukan sebuah solusi yang menurut saya bisa menjembatani dua hal yang terlihat tidak bersambung tersebut. Solusi yang saya maksud adalah Flipped Classroom, sebuah metode pembelajaran yang membalik praktik pembelajaran konvensional menjadi praktik pembelajaran yang lebih memberdayakan siswa sekaligus memaksimalkan pemanfaatan teknologi digital.
Apa itu Flipped Classroom?
Flipped Classroom adalah model pembelajaran yang membalik praktik pembelajaran, dimana materi pokok dibagikan oleh guru secara daring. Materi daring tersebut dapat berupa audio, video, citra digital maupun teks. Sedangkan kegiatan belajar mengajar di kelas bertujuan memperdalam pengetahuan dan atau mengasah ketrampilan siswa melalui kegiatan-kegiatan interaktif yang mengedepankan kolaborasi antar siswa, seperti diskusi, simulasi, problem solving, pengerjaan proyek, dan lain-lain.
Mengapa Flipped Classroom?
Ada beberapa keunggulan Flipped Classroom dibanding kelas konvensional, yaitu antara lain: Pertama, penggunaan teknologi digital lebih maksimal. Guru dapat menggunakan beragam platform teknologi digital untuk membagikan konten atau materi pelajaran. Pemilihan platform teknologi digital ini tentunya dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Kedua, dapat meningkatkan kesadaran dan tanggungjawab siswa dalam belajar. Untuk memperoleh pengetahuan awal dengan baik siswa harus mempelajari materi pelajaran secara sadar dan bertanggungjawab. Kesadaran ini tentunya akan menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan bermakna. Ketiga, lebih fleksibel, efektif dan efisien. Dengan model pembelajaran ini siswa lebih fleksibel dalam menentukan waktu dan tempat terbaik untuk mempelajari materi yang dikirimkan secara daring. Siswa juga lebih leluasa untuk mengatur durasi waktu maupun frekuensi yang dibutuhkan untuk belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Selain itu, materi yang dikirimkan secara daring juga lebih efektif dan efisien dibandingkan materi pelajaran yang didistribusikan secara luring, baik dari segi waktu maupun biaya. Keempat, siswa lebih mandiri dan dapat berpikir kritis. Model pembelajaran ini menuntut siswa dapat belajar secara mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Selain itu kemampuan berpikir kritisnya juga akan diuji saat sesi pembelajaran di ruang kelas dengan aktiitas-aktifitas interaktif yang dibuat oleh guru. Terakhir, Flipped Classroom memaksimalkan peran guru sebagai fasilitator pembelajaran. Tugas guru sebagai seorang fasilitator pembelajaran adalah menciptakan lingkungan belajar yang aktif dan kolaboratif, mendorong kemandirian siswa, memberikan bimbingan dan sumber belajar, serta memberikan umpan balik berkualitas untuk mempermudah pemahaman dan menggali potensi peserta didik.
Tahapan Flipped Classroom
Dalam setiap tahapan pembelajaran, baik guru maupun siswa memiliki tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu:
A. Sebelum KBM di Kelas
- Guru bertugas menyiapkan materi pelajaran berupa audio, video, citra digital maupun teks.
- Siswa mempelajari materi yang diberikan oleh guru secara mandiri.
B. Saat KBM di Kelas
- Guru berperan sebagai pembimbing dan pengarah berbagai aktifitas interaktif yang melatih kolaborasi antar siswa.
- Siswa berbagi ilmu dan pengetahuan yang sudah dipelajarinya pada tahapan sebelumnya.
C. Setelah KBM
- Guru melaksanakan penilaian pembelajaran.
- Siswa melakukan refleksi pembelajaran.
Tantangan dan Solusi
A. Tantangan
Ada beberapa kendala yang mungkin ditemukan dalam penerapan Flipped Classroom, yaitu antara lain:
- Kurangnya akses internet dan perangkat digital.
- Kurangnya partisipasi dan disiplin siswa
- Minimnya persiapan guru
B. Solusi
- Bila masalahnya adalah keterbatasan akses internet atau ketiadaan perangkat digital, maka guru bisa menyiapkan materi pelajaran yang bisa diakses secara luring. Sebagai contoh misalnya dalam bentuk fotokopi modul atau buku pelajaran, poster, brosur dan lain-lain.
- Untuk mengatasi kurangnya partisipasi dan disiplin siswa dalam mengikuti semua tahapan pembelajaran guru harus selalu memberi arahan dan motivasi kepada siswa terkait manfaat yang akan diperoleh. Selain itu guru juga bisa memberikan pemantik berupa pertanyaan-pertanyaan yang harus dicari jawabannya dalam materi pelajaran yang dberikan.
- Terkait dengan persiapan guru berupa materi pelajaran, instrumen penilaian dan lain-lain maka guru yang bersangkutan dapat berkolaborasi dengan guru mata pelajaran lain yang sejenis.
Demikian sesi belajar bersama kita kali ini, semoga informasi tentang Flipped Classroom ini bermanfaat bagi kita selaku guru.

Leave a Comment